10 Mei 2026
Hari ini aku kembali membaca jurnal yang kutulis enam tahun lalu.
Di sana, ada seorang versi lebih muda dari diriku yang sedang bercerita tentang sebuah mimpi. Mimpi yang hingga hari ini โ di usiaku yang ke-32 โ belum juga berhasil kuraih.
Angkanya spesifik: $133.000.
Bukan angka yang jatuh dari langit. Aku menghitungnya sendiri, terinspirasi dari buku Money Master the Game karya Tony Robbins โ buku yang kubeli menggunakan uang dari hasil mengetik captcha di situs bernama Megatypers dan Kolotibablo. Dibayar pakai cryptocurrency. Ditarik ke exchange bernama Bitcoin.co.id โ yang sekarang kamu kenal sebagai Indodax.
Ya, sepanjang itu ceritanya.
Sebelum Tony Robbins, ada dua buku lain yang mengubah cara berpikirku.
The Secret karya Rhonda Byrne dan Sang Alkemis karya Paulo Coelho. Keduanya kubaca pada tahun 2015 โ keduanya kudapatkan secara ilegal dari internet. Maklum, waktu itu aku masih mahasiswa yang tidak punya uang. Dasar payah.
Tapi dari dua buku itulah aku mulai percaya bahwa mimpi bisa diraih. Bahwa alam semesta akan membantu siapapun yang dengan serius mengejar apa yang Paulo Coelho sebut sebagai legenda pribadi.
Aku percaya. Sepenuhnya. Mungkin terlalu penuh.
Tahun 2015, aku mulai mencari cara menghasilkan uang dari internet. Dari situ aku mengenal trading forex. Aku mencobanya. Aku gagal. Tidak sekali โ berkali-kali, hingga hari ini.
Ha ha ha.
Tahun 2016, aku mengenal Bitcoin. Aku mulai berinvestasi. Aku menentukan target: financial independence di angka $133.000. Awalnya ingin kuraih di usia 27 tahun. Lalu direvisi ke 29 tahun.
Sekarang aku sudah 32.
Angka itu masih jauh. Seperti mimpi di siang bolong โ istilah yang terasa sangat tepat untuk menggambarkan jarak antara apa yang kubayangkan dan apa yang kenyataannya terjadi.
Sudah tak terhitung berapa kali aku memutuskan untuk menyerah.
Setiap kali akun trading kena margin call โ aku ingin menyerah. Setiap kali portofolio investasi mengalami floating loss โ aku ingin menyerah. Apalagi di kondisi ekonomi Indonesia sekarang, bahkan saham bluechip pun bisa membuat mental down.
Dan setiap kali itu terjadi, aku merasa hal yang sama: putus asa. Bodoh. Tidak kompeten. Merasa tidak bisa apa-apa.
Tapi hari ini aku masih bernapas.
Masih punya kesadaran. Masih bisa menulis ini โ meskipun untuk berpikir jernih saja rasanya cukup sulit belakangan ini.
Dan di antara semua yang terasa berat itu, ada satu hal kecil yang masih menyala. Tidak besar โ hanya seperti lilin kecil di ruangan yang gelap. Tapi menyala.
Itu cukup.
Makanya hari ini aku memulai blog ini.
Langitsore โ blog keempatku. Setelah tiga kali gagal sebelumnya. Kali ini aku tidak menjanjikan apapun pada dirimu sebagai pembaca. Tidak ada tips. Tidak ada formula sukses. Tidak ada kesimpulan yang manis.
Hanya catatan dari seseorang yang sudah berkali-kali gagal, tapi masih belum bisa berhenti bermimpi.
Selamat datang.
Have any thoughts?
Share your reaction or leave a quick response โ weโd love to hear what you think!
1 comment
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.